Menghayati Keheningan

December 12th, 2008 by diengsj

Menghayati Keheningan

Kita tidak tahu apakah keheningan merupakan suatu hal yang penting bagi banyak orang di jaman ini. Sepertinya, menjadi hening atau tidak bukanlah persoalan yang dipikirkan oleh banyak orang. Siapa peduli dengan keheningan? Kalaupun ada yang memikirkan hal itu, tentu dia adalah orang yang berani menghadapi tantangan.

Keheningan pada dirinya adalah sebuah sarana untuk mencapai cara hidup yang lebih baik. Di dalamnya, kita tidak hanya dapat menemukan banyak tantangan, tetapi juga kekayaan yang jika dihayati sungguh-sungguh dapat berguna bagi kehidupan kongkret kita.

Dalam tulisan singkat ini kita akan melihat beberapa aspek dari keheningan diantaranya adalah tentang apa sajatantangan yang mungkin dihadapi ketika keheningan ditawarkan sebagai salah satu cara mengintegrasikan diri dalam kehidupan kongkret. Selain itu kita juga akan melihat beberapa “keuntungan” yang dapat diperoleh jika keheningan telah kita integrasikan dalam kehidupan kita.

Keheningan Vs Keliaran

Suasana hening pada umumnya memiliki dua “musuh liar” dalam diri setiap orang. Disebut demikian karena “musuh liar” tersebut tidak mudah begitu saja untuk dikendalikan. “Musuh liar” yang pertama adalah faktor-faktor suara yang berasal dari luar diri seseorang. Maksudnya, keheningan biasanya dikaitkan dengan faktor keramaian yang liar dari luar diri seseorang, entah itu karena disebabkan oleh suara-suara alat transportasi, komunikasi dan hiburan. Suara-suara pesawat, mobil danmotor adalah beberapa contoh keramaian yang diakibatkan oleh sarana transportasi itu. Suara-suara lain yang akhir-akhir ini juga akrab muncul dalam kehidupan sehari-hari adalah dering telepon dan short messege service (sms) yang datang dan pergi tanpa permisi. Sedangkan dari dunia hiburan muncullah suara-suara tv, mp3, dvd, radio dan lain sebagainya yang semakin menambah riuh redamnya berbagai macam suara dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sedangkan “musuh liar” yang kedua adalah musuh yang berasal dari diri seseorang. “Musuh liar” itu dapat muncul dalam diri seseorang entah itu melalui pikiran atau rasa perasaan. Seperti halnya ketika seseorang jatuh cinta dan memikirkan orang yang dicintai, demikianlah gambaran liar dari suatu pikiran itu. Rasanya sulit menghindari untuk tidak memikirkan seseorang yang sedang kita cintai. Bisa jadi semakin kita tolak untuk tidak memikirkan orang yang kita cintai justru semakin kuat kita memikirkanya. Hal yang sama kiranya juga dapat terjadi dengan rasa perasaan yang kita miliki. Seringkali kita asyik begulat dengan berbagai macam perasaan yang muncul karena peristiwa-peristiwa mengesan dalam hidup kita, entah itu peristiwa yang menggembirakan atau yang menyedihkan. Tidak jarang pula kita tenggelam dalam perasaan tertentu yang sama sekali tidak memberikan kenyamanan untuk suasana hening, perasaan was-was atau cemas, misalnya. Musuh liar yang kedua ini sepertinya lebih sulit untuk ditaklukkan atau dihilangkan jika dibandingkan dengan suara-suara liar yang pertama. Dalam arti tertentu, musuh liar yang berasal dari luar diri seseorang dapatlah dikendalikan dengan cara menghindari, menyepi di tempat tertentu atau dengan sengaja mengkondisikan suasana hening. Tetapi lain halnya dengan “musuh liar” yang berasal dari dalam diri seseorang. Belum tentu suara-suara liar dari dalam itu serta-merta akan hilang dengan cara menghindari, menyepi atau mengkondisikanya.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apa yang dapat kita lakukan dengan “musuh-musuh liar” tersebut? Ketika merenungkan pertanyaan di atas lebih jauh, saya teringat dengan sebuah pepatah yang berbunyi; “tak kenal maka tak sayang”. Mungkin kita dapat belajar dari pepatah itu. Artinya, seliar apa pun “musuh” keheningan yang kita hadapi rasanya akan dapat diatasi jika kita mengenalinya. Dengan kata lain,jika kita memang benar-benar mengenal suara-suara “musuh liar” tersebut sebagai sesuatu yang akrab, tentunya kita tidak akan mengalami banyak gangguan. Melalui pengenalan itu, kita dapat mengetahui apa yang dapat kita lakukan. Dengan pengenalan kita dapat mengetahui kelemahan-kelemahan dan celah-celah di mana “musuh-musul liar” itu dapat ditaklukkan dan diterobos.

Keheningan itu menakutkan

Keheningan bisa menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mereka yang belum terbiasa menghadapinya. Sebab, dalam keheningan yang kita hadapi pertama-tama adalah diri kita sendiri.

Dalam keheningan, seseorang biasanya akan dibawa untuk mencapai kesadaran diri. Kesadaran itu sendiri membawa seseorang untuk merasakan bahwa ia benar-benar berada di sini dan di saat ini. Rutinitas keseharian hidup seseorang terkadang lebih banyak menyita kesadaran. Maka, tidak mengherankan jika terjadi bahwa seseorangterlena dan tidak sadar dengan dirinya, apa yang dikerjakan dan dihidupi. Tak jarang pula, seseorang merasa kaget ketika baru menyadari bahwa ia ada di sini saat ini dan sedang melakukan sesuatu.

Kesadaran diri pada saat yang sama dapat menghantar seseorang secara khusus untuk berjumpa dengan kejadian-kejadian di masa lalu. Jika seluruh kejadian di masa lalu itu adalah baik dan membahagiakan, bukanlah suatu hal yang menjadi permasalahan besar. Sayangnya, dalam kejadian-kejadian masa lalu itu juga tersimpan berbagai peristiwa atau kejadian-kejadian yang mungkin buruk, menyedihkan dan menyakitkan. Masalah-masalah seperti itu kadangkala justru dapat menjadi hal-hal yang menakutkan ketika seseorang untuk masuk dalam keheningan, sebab kejadian-kejadian tersebut dapat muncul setiap saat dengan tanpa diminta. Atau, melalui kesadaran bisa juga seseorang diantar untuk selalu ingat dengan tantangan hidup yang harus di hadapi yang mungkin cukup memberatkan. Dengan menjadi tidak hening, dalam arti tertentu dapat menjadi modal bagi seseorang untuk melupakan sejenak kesulitan atau tantangan yang harus dihadapi. Dalam peristiwa sepertiinilah, keheningan dapat dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan.

Bukanlah suatu yang salah, ketika seseorang merasa takut atau bahkan enggan masuk dalam keheningan. Sebab, untuk mencapai suasana hening seseorang membutuhkan banyak latihan dan kerja keras. Misalnya, ia perlu merasa kerasan dengan suasana dunia sekitar dan diri sendiri. Ia perlu kerasan dengan suara-suara bising yang muncul entah karena alat transportasi, komunikasi atau hiburan. Ia juga perlu kerasan dengan berbagai macam lanturan yang muncul entah itu melalui pikiran dan perasaan pribadi. Belum lagi ketika maksud untuk mencapai keheningan justru berubah menjadi kesepian yang mencekam atau justru keramain di luar diri seseorang seolah-olah justru semakin menjadi-jadi.

Untuk apa kita hening?

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah untuk apa kita menghayati keheningan jika ternyata keheningan itu sendiri memiliki “musuh-musuh liar” dan menakutkan untuk dihayati? Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh keheningan?

Bagi para religius, dua pertanyaan di atas bukan hal-hal asing yang tidak bisa dijawab. Dalam konteks hidup rohani, keheningan biasanya dipahami sebagai sebuah sarana untuk mencapai pengalaman rohani tertentu, berjumpa dengan Allah secara personal misalnya. Keheningan semacam itu biasanya dipraktekkan ketika dalam situasi retret, rekoleksi atau dalam bentuk doa-doa tertentu. Keheningan kadangkala juga menjadi sarana untuk mengasah ketajaman batin. Melalui ketajaman batin itu, dengan mudah seseorang dapat mengenali apa yang dikehendaki Allah atas hidupnya.

Keheningan tentunya tidak hanya dibutuhkan dalam konteks kehidupan rohani saja, keheningan juga berguna dalam konteks kehidupan yang kongkret dan dialami sehari-hari. Salah satu hal yang mungkin dicapai melalui sarana keheningan adalah demi mencapai manajemen atau pengaturan diri. Artinya, jika suasana hening di miliki oleh seseorang maka akan mudah bagi orang tersebut untuk mengolah diri. Dengan berbekal keheningan, batin seseorang bisa menjadi jernih dan teratur sehingga tidak dikendalikan oleh pikiran atau perasaan yang membabibuta. Dalam hal studi misalnya, keheningan secara nyata menjadi sarana yang sungguh dibutuhkan. Dari pengalaman, saya merasa bahwa keheningan sungguh memberikan ruang yangcukup untuk berkonsentrasi dan menangkap lebih mudah apa yang sedang saya pelajari. Ruang itulah yang nantinya menjadi tempat untuk melekatkan ilmu atau materi yang saya pelajari.Saya tidak bisa membayangkan jika saja keheningan itu tidak pernah saya miliki, tentu tidak akan mudah bagi saya untuk maju dalam hal studi. Dari contoh singkat itu, saya meyakini bahwa pola yang sama tentunya akan dibutuhkan oleh setiap orang ketika mereka melakukan pekerjaan dan aktivitas mereka yang lain.

Ada juga yang mengatakan bahwa keheningan itu dapat disebut sebagai sumber dari segala keutamaan. Bagi saya, tidaklah terlalu berlebihan jika mengatakan demikian. Dengan bekal keheningan itu, kita sebenarnya dihadapkan pada kenyataan untuk dengan tekun mengolah “musuh-musuh keheningan” seperti yang telah kita sebutkan di atas dengan cara-cara yang kreatif. Dalam kebisingan suara-suara luar, keheningan mengajak kita untuk selalu dapat mawas diri dalam bertindak. Seringkali yang terjadi, dalam kekacauan suasana hidup keseharian, suasana-suasana ramai lebih sering mendominasi hidup kita, maka seringkali pula keputusan-keputusan tindakan kita diambil dalam suasana demikian itu yang sebenarnya tidak selalu tepat. Dalam ungkapan lain, kita sebenarnya selalu diajak untuk berkontemplasi dalam aksi.

Melalui keheningan, kita sebenarnya dengan rendah hati juga diajak untuk mengolah pikiran dan suasana batin kita. Kita diajak untuk masuk ke dalam relung pikiran dan batin kita yang paling dalam. Mungkin saja, pada kedalaman pikiran itu terdapat gagasan-gagasan cemerlang yang dapat kita ambil dan berguna bagi kehidupan kita. Atau mungkin pada kedalaman batin, kita dapat menemukan masalah-masalah batin yang perlu diselesaikan, masalah luka batin misalnya.

Sikap tekun dan rendah hati untuk mengolah “musuh-musuh” keheningan adalah sika-sikap yang mungkin lahir melalui penghayatan keheningan di samping keutamaan-keutamaan lain tidak dapat disebutkan seluruhnya di sini. Dalam arti seperti itulah saya berpendapat bahwa keheningan bisa menjadi sumber dari segala keutamaan.

Memaknai keheningan

Keheningan mungkin tidak lagi menjadi suatu hal yang dipikirkan atau disadari oleh banyak orang. Akan tetapi, bukan berarti bahwa keheningan tidak lagi memiliki makna yang penting dalam kehidupan kita. Sebaliknya, jika kita mau jujur, keheningan sebenarnya adalah sarana yang sangat kita butuhkan dalam kehidupan ini. Hanya saja, karena ada banyak hal yang harus dikerjakan dalam penghayatan keheningan, orang lebih suka mengabaikan arti dan penghayatan keheningan itu. Terkesan juga bahwa keheningan itu dihindari karena memang memiliki banyak musuh-musuh liar di dalamnya, selain kesan menakutkan yang juga sering muncul.

Keheningan yang seringkali dianggap sebagai melulu urusan rohani juga tidaklah benar. Dalam kenyataan, keheningan justru sangat dibutuhkan dalam kegiatan kongkret sehari-hari. Tanpa adanya modal keheningan, mungkin akan terjadi “kekacauan” di mana-mana. Sulit dibayangkan bagaimana seseorang dapat fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan, entah itu mengatur atau mengolah diri, mengendalikan pikiran dan rasa perasaan, jika keheningan bukan menjadi suatu bagian integral dalam diri seseorang.

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh keheningan adalah suasana keakraban. Keakraban itu sendiri terbentuk jika kita memang benar-benar mengenali macam-macam suara “musuh” yang berasal dari luar dan dalam diri kita. Jadi dengan demikian keheningan bukan lagi menjadi permasalah ketika kita berhadapan dengan berbagai macam bentuk suara yang mengganggu.

Untuk selanjutnya, barulah dikatakan bahwa keheningan itu adalah masalah batin, yaitu batin yang telah terbebas dan tidak lagi dipengaruhi oleh suara-suara dari luar entah itu oleh suara-suara kendaraan, alat komunikasi dan hiburan maupun oleh suara-suara lain yang berasal dari dalam diri berupa pikiran dan rasa perasaan.

Br. Dieng Karnedi, Sj

Who am I?

May 21st, 2008 by diengsj

                                                    

                                              

Makulotjan0592

   

Who Am I? 

Human beings are God’s creation. At the beginning, we have nothing we own and we actually don’t have anything, even now. The reality is that we are neither poor nor wealthy. However, people are having a great rejection of who was the source of everything.

People used a level-by-level acquaintance of each property that they think it’s theirs. And now, people are thinking of the difference of so-called rich and poor. They think that poor are they and rich are those who are actually nothing so important to be of pride in-front our Great Creator in heaven.

This is a narration or a selection about somebody who has a very interesting life for a person like me. If the right adjective to be used for his life before is “terrible”, then it is far for me who is lucky to know a person like him.

He introduced himself as my kuya Dieng. He is a simple guy that has a very strong personality. The early stage of his life was alones for him. Well, it’ all before who he is now. And to test my memory that I’ve earned up on his revelation of his life, I’ll try the best word to be used just to give you a nice thing to read. It is like a remarkable discovery of life of such a dedicated person who was young and struggling to survive in this world with of abusing personality. He lived a tough life with tough people around.

Somewhere in Java, Indonesia lived a boy with his family of seven children all in all with his parents. He was the sixth child. But life was not this kind of happy for him when his beloved mother died when he was just young in age. And everything of a happy childhood became a memory when his father decided to marry again.

At the time, his elder brother (1st and 2rd) with his elder sister went away from their place to another place for work. And only the four of them were left in their house with their father being their mother at the same time. It was very hard for his father to work and at the same time took care of them. May be it was one of the important reason why his father got married again.

For the child like Dieng, all the things that were happening was very confusing and he couldn’t understand his father anymore, especially when somebody came to be their stepmother. He actually didn’t like his stepmother. She came to be not generous to any of his brothers and sister. She liked to hide some foods that should be given to all of us. Angry little Dieng sneak the plastic of food that was hidden and disposed it away.

Here came his rescue, his second brother who just came from the other place. He was also very angry of their stepmother and her character. And because of it, he cut all the banana trees around their house like that of a Kung Fu fighter. He showed his angry feeling to lose so that his stepmother would be afraid and went away to her parent’s residence but they were unfortunate to lose their father when he followed their stepmother.

It was the time for little Dieng and his brothers and sister should work for survival. After school hours they had to work to support their own live.

Dream is an impossible thing to think of for Dieng, when he couldn’t continue his school anymore.
Luckily, came his sister help from another island of Sumatra who had already married. She asked him about continuing to school. Then, an opportunity came to Dieng’s life like what he had expected. That was why Dieng lived in Sumatra Island.

For a young boy like Dieng who had not yet ride a bus, he was very happy about ridding there. It was a simple happiness that was very remarkable for an innocent’s eyes who was sent to work at an early age.

He live his first year with the family of his sister fine. But time came so fast that it caused not well a change for him. His sister’s husband was always angry with her that her sister cannot fight back to him. Poor Dieng is the only one whom his sister could let out all her tantrums. Little fault, he would be scolded. With his naughty cousin, the daughter of his sister, all became worst. Then the time then came that his sister told him to stop studying and working is good for him.

Life is not that bad at all for him caused he has somebody whom he felt he was being cared. He was somebody who was very helpful for many things that he needed. He was very thankful for that blessing.

Young Dieng continued his studying and working at the same time. He worked in oil palm plantation, if I am not mistaken. And for a working student like him, studying was very hard to insert in his tiring schedule. But, he had enough grades that finally graduated from junior high school.

Days had passed as lonely as Dieng was alone, and how did he make to pass all those trials he have face? “ I used to read bible everyday. And when I was still young I attended mass every Sunday in our church there in Java.” It was Kuya Dieng who was now a Jesuit Brother. He is now in a world he liked most and enjoyed much.

But how he came to be like who he is now? “I came to be close to a Jesuit Brother who visited our place. He was together with a scholastic and a priest. And he somehow, enjoyed being with this brother”, Kuya Dieng said. One time, this brother asked him to be with him or go with him.

So to skip that thing, I once again asked him of how he came to be interested of being a Jesuit? “It is very funny!” he said. But actually I found it also funny but not that I have expected before he told me why.

“It’s just because my great curiosity. It’s all because the Jesuits logo “ihs’’, a logo that was very interesting for me. I could see it all around….in window, knife and almost everywhere it wan imprinted.” Answer Kuya Dieng. He even asked a Jesuit priest the meaning of it. But it was not enough for him.

One time, many books in the convent where Kuya Dieng live were burned because all of Jesuits were going to move to Java. He was asked to burn tree books that all of them there were ihs logo. In order to know something about the logo of ihs , he hid those books. Then he read those on the other day.

Knowledge about the Society of Jesus came flooding his curious mind after he had read that very nice book. And it was all the beginning. He had an idea of whom he wanted to be like. He realized many things about life of the Jesuits, and he realized many things about his life itself.

Then he stayed in the major seminary. He did not become a seminarian but he worked there. At the same time his vocation to be a Jesuit was growing. In that seminary he lived together with tough brother and priest. But he knew that he could survive this part at all. Why not? It was just a lesser burden than his early years….his past.
“Looking back to my past, I have had a lot of realizations. Actually, many love me at all and I was not that alone”.

So is Kuya Dieng poor at all? The answer is just simple “no”. What poverty means after all? According to my own dictionary poverty is for those who were lazy. It is not for hard working one, and neither it is Kuya Dieng he has showed a lot of strength and faith to God, the Creator of everything, the Owner of everything. All in all, God didn’t make us to be poor. He created man neither poor nor rich, and man has gifts from God especially the gift of freedom.

We must look within ourselves, the way God loves us…He loves us greatly so that he prepare everything for us before he blew his life-giving air. We actually worthy of nothing but spend our life here on earth as a thank giving to His loving Grace.

Well…Well…Well… Before ending this narration, you don’t have a choice but let me to tell you the very first thing that Kuya Dieng shared to me. That was when I asked him to tell everything from the very beginning of his life…Even his being a baby, if he still remembered it. But it’s just to make him started his story.

He really told me..” I still remembered when I was still a baby, I fell down from the cradle (I think made of clothe) and my hard cry make my memory unable to forget it even though I was just still a little child”, he said.

This is a dedication the source of this life story.
Thank you very much. Kuya Dieng for the honesty and trust that you made me known your life story. One day, I will make it known to those who feel they are alone yet not. I will let others know or read this story and I will preserve the fact that you are good and strong one who didn’t fear to continue living live even it’s so hard thing to be spent. You are not alone. We are many, who have experienced times when we were just alone. Just what you have done, I will be also a strong one like you. Thank you very much and see you in my prayers.

Written by: Glayza May A Bobole
Dated: May 3, 2005@ 3.00 PM
Computerized: May 3, 2005@ 3: 46 PM. Blue LOVER

Peduli sampah

September 15th, 2007 by diengsj

Peduli sampah

Isu tentang kerusakan lingkungan hidup
berhembus begitu kuat akhir-akhir ini. Kendati begitu, terkesan bahwa belum
begitu banyak orang mau peduli terhadap keadaan tersebut. Di Jakarta,
permasalahan kerusakan lingkungan hidup terlihat dari penampilan wajah garang
yang ditunjukkan oleh sampah dan polusi entah itu berupa air, udara dan tanah.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah benar wajah garang itu sebagai satu-satunya
penyebab kerusakan lingkungan hidup? Ataukah justru karena sikap orang

Jakarta yang kurang
bijaksana? Siapa yang bertanggung jawab?

 

Apa yang hendak saya sharingkan dalam tulisan
ini adalah sebuah gagasan yang mungkin dapat membantu siapa saja untuk ikut
bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan hidup khususnya mengenai bagaimana
bersikap terhadap sampah. Selain itu, saya juga akan sedikit menceritakan
usaha-usaha yang telah dibuat paling tidak oleh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ),
beberapa Jesuit rekan-rekan muda dan saya sendiri yang ikut terlibat di
dalamnya.

 

Berpikir Secara
adil

Pilihan untuk mengolah sampah dan menjaga
kelestarian lingkungan hidup sering terbentur dengan kesalahan

cara

berpikir. Sampah seringkali dikonotasikan sebagai
sesuatu yang kotor, sehingga memunculkan resistensi sebagian orang. Akibatnya,
kesadaran dan tanggungjawab untuk mengolah sampah menjadi sulit diwujudkan. Kesalahan
cara berpikir tidak seharusnya terjadi jika diterapkan prinsip berpikir secara
adil. Menemukan nilai positif pada sampah, misalnya, dengan sendirinya dapat
mengikis falsafah “habis

manis

sepah dibuang”
terhadap sampah. Sampah bukanlah “sepah” yang mesti dibuang. Sampah dapat
diubah menjadi sesuatu yang “
manis” dalam bentuk
lain.

Kesalahan cara berpikir terhadap lingkungan hidup terjadi ketika muncul gagasan bahwa lingkungan
hidup tidak memiliki nilai pada dirinya. Manusialah yang hanya memiliki nilai
pada dirinya. Maka, terjadilah dekadensi penghargaan terhadap lingkungan hidup
yang berakibat pada kegiatan eksploitasi tanpa disertai rasa tanggungjawab
memadai. Berfikir secara adil berarti menyadari bahwa lingkungan hidup bukan
“sapi perahan” atau “barang” gratis yang
dapat diambil begitu saja. Lingkungan hidup juga membutuhkan perawatan dan mempunyai
nilai tukar—nilai pada dirinya.

 

 

Harus ada semangat untuk saling
melayani antara manusia dan lingkungan hidup agar terciptalah keharmonisan

 

Memilih Berbuat Adil

Kesulitan untuk berbuat adil terhadap sampah
dan lingkungan hidup hampir sama dengan sulitnya memerangi kesalahan

cara

befikir. Tetapi, bukan berarti berbuat adil
tidak mungkin dilakukan.

Ada

banyak kemungkinan dapat dilakukan untuk
merealisasikan perbuatan adil terhadap sampah dan linkungan hidup. GROPESH[1](Gerombolan Peduli Sampah) memiliki beberapa tip pengolahan sampah yang
sangat bagus. Tips itu populer dengan nama 3R +R (Reduce,Reuse,Recycle dan Replant). Tindakan mengurangi,
mengumpulkan lalu memilah dan menggunakan lagi jenis sampah tertentu adalah
langkah awal untuk berbuat adil.

Keadilan
itu terletak pada cara-cara yang berorientasi ramah lingkungan hidup. Orientasi
ramah lingkungan hidup tersebut nantinya dapat mereduksi jumlah polutan yang
harus ditanggung alam atau lingkungan hidup tertentu. Tindakan untuk me-recycle sampah adalah bentuk perbuatan
adil yang langsung memiliki dampak positif, lingkungan menjadi bersih dan
sehat, misalnya. Dengan mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos, misalnya,
dapat diperoleh beberapa keuntungan.

Sampah organik dapat disebut berkah ketika menjadi pupuk kompos dan
kemudian dikembalikan pada alam

Pertama, pengurangan volume sampah
sehingga tidak menimbulkan masalah baru.
Kedua, penggunaan pupuk kompos dapat menyuburkan tanah dan untuk me-Replant tanaman tertentu yang dikendaki.
Ketiga, pupuk kompos memiliki nilai ekologis-ekonomis.

Memilih
untuk bebuat adil terhadap sampah dan lingkungan hidup bukan tidak ada
untungnya. Beberapa keuntungan dari pemilahan dan pengolahan sampah diantaranya
adalah Pertama, tidak ada lagi
kerepotan mengurus sampah dan kesan kekotoranya. Kedua, sampah an-norganik dapat ditukarkan dengan barang lain yang
punya nilai ekonomis. Ketiga, secara
tidak langsung ikut terlibat memperkecil kemungkinan terjadinya bencana banjir
akibat sampah, misalnya. Dan, keempat,
karena penggunaan pupuk kompos, pekarangan sekitar rumah dapat diubah menjadi
lebih subur dan sehat.


Pupuk kompos dapat
dijadikan media tanam bukan hanya untuk tanaman hias, tetapi juga untuk tanaman
yang lain.

Siapa Mau Ikut?

Prinsip keadilan dalam berpikir dan
berbuat terhadap sampah dan lingkungan hidup seharusnya dimiliki siapa saja
yang tinggal di bumi. Itulah tanggungjawab yang harus disadari dan dipraktekkan
oleh setiap orang.
Mengingkari
tanggungjawab tersebut sama artinya dengan memilih tinggal dalam kesalahan.
Pertanyaanya sekarang, siapa mau ikut? Siapa mau ikut berfikir dan berbuat adil
terhadap sampah dan lingkungan hidup? Siapa mau ikut menyelamatkan bumi?


Mari berbuat adil
dengan bersama-sama mengolah sampah demi kelestarian lingkungan hidup dan bumi.

Yang telah kami lakukan

Sampai di sini, perlu di sadari
bahwa masalah sampah dan kerusakan lingkungan hidup serta dampak-dampak yang
ditimbulkanya adalah tanggung jawab bersama. Sebagai ungkapan bentuk
tanggungjawab tersebut, dan tindak lanjut dari Sidang Agung Gereja Katolik
Indonesia (SAGKI) 2005, KAJ paling tidak telah memulai beberapa usaha untuk
berbuat adil. Melalui gerakan Hidup Bersih dan Sehat, KAJ meyuarakan dengan cukup lantang kesadaran
untuk memilah sampah organik dan an-organik serta menaruhnya pada tempatnya.


Memilah sampah dan menaruhnya agar menjadi berkah adalah sebuah usaha
untuk berbuat adil terhadap lingkungan hidup dan sesama.

 

Tidak hanya berhenti di situ,
gerakan memilah sampah dan menaruh pada tempatnya, juga dilanjutkan dengan
mengolah sampah tersebut. Untuk dijadikan pupuk kompos dan produk lain yang
memiliki nilai ekonomis seperti yang telah dijelaskan di atas. Rangkaian bentuk
penyadaran terhadap sampah yang tentunya diintensikan demi menyelamatkan
lingkungan dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti seminar, pameran,
pelatihan, pembagian brosur dan stiker peduli sampah dan seterusnya.

 

Sebuah bentuk pelatihan  tentang cara mengolah sampah untuk kaum muda

Gerakan penyadaran terhadap sampah dan
lingkungan hidup di atas, bukanlah gerakan yang begitu saja mudah bergulir,
sampai saat ini gerakan penyadaran tersebut masih terus diusahakan. Romo Andang Listya Binawan, SJ,
sebagai salah satu orang yang ditunjuk oleh KAJ dan bersama-sama teman-teman
lain masih terus menyuarakan pentingnya kesadaran
khususnya terhadap sampah. Pada tahun ini pula, Romo Andang bersama kaum muda
KAJ membentuk sebuah organisasi informal nama
GROPESH.


Inilah kaum muda yang
tergabung dalam Gropesh.
Kaum muda yang ikut mewujudkan gerakan hidup
bersih dan sehat

 

Pada umumnya, yang menjadi anggota
Gropesh adalah kaum muda yang masih kuliah dan sudah berkerja. Mereka berasal
dari berbagai paroki yang ada di KAJ. Bersama dengan mereka, sekaligus sebagai
bentuk kegiatan ad extra, saya tidak
ragu-ragu untuk terlibat di dalam gerakan penyadaran di atas.

 

Pilihan yang tidak populer

Kesadaran
terhadap penanganan sampah dan kerusakan lingkungan hidup mungkin belum begitu
populer untuk saat ini. Akan tetapi, saya meyakini bahwa dalam waktu yang tidak
lama, kebutuhan untuk mengolah sampah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup
akan menjadi tuntutan yang tidak dapat dihindari. Ketika global warming semakin parah, ketika jumlah hutan dan tanaman
semakin menyusut, ketika bumi dan alam tidak semakin ramah, orang mungkin baru
akan menyadari bahwa mereka berada dalam bahaya.

Keadaan
yang baru saya sebutkan tidak seharusnya terjadi jika mulai saat ini setiap
orang berusaha untuk memperhatikan sampah dan kerusakan lingkungan hidup. Usaha
sekecil apa pun yang kita lakukan saat ini, pasti akan sangat dihargai oleh
anak cucu kita yang akan hidup di waktu yang akan datang.


“seorang terpelajar harus juga
berlaku adil sudah sejak dari pikiran, a
palagi dalam perbuatan”

Taruh_sampah_jadikan_berkah~Pramudya Ananta Toer~



[1] Gropesh adalah gerombolan anak muda Keuskupan Agung Jakarta yang memiliki kepedulian terhadap
sampah. Mereka memiliki misi untuk menyerukan kesadaran terhadap sampah dan
bagaimana cara mengolahanya.

Pnggilan?

April 18th, 2007 by diengsj

Mungkin ada baiknya, jika sekali waktu kita menimbang masalah panggilan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk meracuni anda, tapi sekedar sharing pengalaman…mungkin juga tulisan ini ada gunanya, terlebih terhadap motivasi hidup anda.

Menyelami
Motivasi Panggilan

 

Orang bijak pernah mengatakan bahwa
kedalaman laut dapat diselami, tetapi tidak untuk kedalaman hati seseorang. Kedalaman
hati seseorang hanya dapat diketahui sebagian saja oleh yang lain. Kedalaman
yang sesungguhnya hanya diketahui oleh mereka yang empunya hati. Demikian juga halnya dengan motivasi
panggilan seseorang ketika menjadi religius. Kedalaman motivasi panggilan
tersebut tidak sepenuhnya dapat diselami. Rasa kaget dan heran sering muncul,
ketika diketahui bahwa ada seorang memilih jalan religius. Apa motivasi mereka?
Kekagetan yang sama juga muncul ketika ada religius tertentu “menanggalkan
jubahnya”. Apa motivasi mereka?

Mengetahui sepenuhnya motivasi seseorang
menjadi religius jaman ini khususnya bukanlah perkara mudah. Tapi ada beberapa
cara yang dapat digunakan untuk menyelam ke kedalaman lautan motivasi panggilan
tersebut diantaranya dengan melihat tahapan motivasi panggilan, proses
perkembangan dan pemurniannya,  dan
mengaitkanya terhadap keprihatinan dan bobot suatu jaman terntu.

 

Tiga Tahap Motivasi Panggilan

Tidak selalu mudah memetakan jenis
motivasi seseorang yang hendak memilih atau sudah berada di jalan hidup
religius. Mengidentifikasi jenis-jenis tahapan motivasi, misalnya, adalah salah
satu usaha kecil yang dapat dilakukan untuk melihat motivasi panggilan
seseorang. Tahapan motivasi yang dimaksud adalah tahapan motivasi panggilan
fisik, psikologis dan spiritual.

Tahapan fisik adalah tahapan motivasi
panggilan yang paling mudah dialami seseorang yang ingin menjadi religius. Pada
tahap ini, umumnya motivasi menjadi religius terjadi karena terkesan pada bagian
fisik yang mudah dilihat dan bersifat attractive
pada diri para religius: misalnya, pakaian suster yang putih, jubah bruder
yang menarik, mobil pastor yang bagus,
kegagahan dan kecerdasan seorang frater dan lain sebagainya.

Tahapan kedua adalah tahapan motivasi
panggilan psikologis. Pada tahap ini, seseorang termotivasi untuk menjadi
religius karena umumnya tersentuh sisi psikologisnya: misalnya, ketika
seseorang terkesan karena merasakan afeksi, perhatian, kesabaran, kebaikan dan
lain sebagainya dari seseorang atau beberapa religius. Melalui cara tersebyt,
seseorang dapat juga termotivasi untuk memilih jalan panggilan.

 Tahapan motivasi panggilan spiritual adalah
tahapan motivasi yang ketiga. Tahapan ini, melampaui dua tahapan sebelumnya.
Seseorang termotivasi untuk menjadi religius bukan semata tertarik pada hal-hal
fisik dan psikologis  tetapi lebih karena
terdorong oleh intensi murni melayani sesama—menjadi alter Kristus di dunia.

Motivasi panggilan tahap fisik dan
psikologis memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan. Kekurangan
tersebut terletak pada ketakabadian
dimensi fisik dan psikologi. Artinya, motivasi panggilan bisa hilang dengan
sendirinya ketika dasar kekaguman terhadap dimensi fisik atau psikologis hilang
atau turun nilainya. Seseorang yang terpanggil bisa merasa kecewa ketika realita
bahwa jubah suster, bruder, mobil pastor, kegagahan dan kepandain frater tidak
menarik lagi. Hal yang sama tentunya juga terjadi ketika, afeksi, perhatian,
kesabaran dan kebaikan tak lagi ditemuai dalam hidup religius. Di sinilah letak
ketakabadian motivasi itu.

 Motivasi
panggilan tahap spiriutal adalah bentuk motivasi panggilan yang lebih ideal.
Motivasi tahap ini tidak bertumpu pada alasan-alasan fisik dan psikologis.
Motivasi panggilan tahap spiritual adalah dorongan motivasi menjadi religius
tanpa memperhitungkan apakah seseorang akan memperoleh “kepuasan” fisik dan
psikologis. Seseorang menjadi religius karena memang dikehendakinya, tanpa
syarat. Motivasi ini bukanlah motivasi buta dengan tanpa pendasaran yang jelas.
Seperti seseorang yang mau mencintai tanpa syarat, seperti itulah bentuk
motivasi panggilan spiritual.

 

Loncatan-loncatan Motivasi

Motivasi panggilan tahap fisik dan
psikologis bukanlah bentuk motivasi yang seluruhnya buruk. Motivasi panggilan
tersebut lebih tepat disebut sebagai jenjang untuk mengantar seseorang mencapai
pemurnia motivasi. Tidak serta merta mereka yang kini menjadi religius langsung
memiliki motivasi spiritual. Untuk mencapai motivasi spiritual, seseorang
membutuhkan pengalaman loncatan motivasi—perubahan motivasi secara berkala. Dengan
kata lain, motivasi menjadi religius adalah sebuah proses becoming. Dalam proses itu, seseorang bisa mengawali motivasi
panggilan dari tahapan fisik atau psikologis. Selanjutnya, motivasi tersebut dapat
dikembangkan dan dimurnikan. Perkembangan dan pemurnian motivasi adalah suatu
proses yang menarik untuk diamati. Perkembangan dan pemurnian motivasi
terkadang melahirkan kejadian-kejadian mencengangkan. Maksudnya,  seringkali mereka yang hendak menjadi religius
atau mereka yang sudah menjadi religius menyadari bahwa sesungguhnya motivasi
mereka kurang tepat. Dengan langkah berat atau ringan, mereka  akhirnya harus meninggalkan panggilan hidup
religius, misalnya. Bagi mereka yang akhirnya menjadi religius atau mereka yang
tetap setia dengan panggilan kereligiusan, pencapaian motivasi spiritual adalah
prestasi yang perlu selalu dipertahankan. Dapat saja terjadi bahwa sebuah
motivasi itu mengalami pasang surut. Motivasi panggilan tahap spiritual
bukanlah titik aman yang dapat membuat seseorang untuk berlengang hati. Pada
tahap motivasi tersebut justru diperlukan komitmen lebih agar ia tidak jatuh
pada dua motivasi sebelumnya yang telah dilampaui.

 

Motivasi Panggilan Jaman Ini

Boleh dikata, hidup panggilan pada jaman
ini adalah “barang mewah”. Alasanya, tidak semua orang terpanggil untuk menjadi
religius. Lebih susahnya lagi, tidak semua yang dipanggil selalu siap sedia. Sementara
itu, kebutuhan pelayanan yang diharapkan dari umat semakin tinggi.  Apakah gejala ini ada kaitanya dengan motivasi
panggilan jaman ini?

 Pada
dasarnya, tidak ada kriteria yang jelas untuk menentukan apa motivasi seseorang
memilih jalan hidup panggilan pada jaman tertentu. Namun ada beberapa indikator
yang dapat dijadikan patokan untuk megetahui motivasi seseorang memilih jalan
hidup panggilan. Tiga tahapan motivasi yang telah di bahas di atas, kiranya
dapat dijadikan indikator awal dari motivasi panggilan hidup religius jaman
ini. Artinya, tidak tertutup kemungkinan bahwa mereka yang terpanggil untuk
menjadi religius mendapat inspirasi dari motivasi panggilan tahap fisik,
psikologi atau bahkan spiritual yang bisa muncul kapan saja. Fr. Happy,
misalnya, tertarik untuk menjadi seorang imam karena tertarik pada kegagahan
seorang pastor yang mengenakan jubah saat merayakan Ekaristi. Br. Anton lain
lagi, ia tertarik untuk menjadi seorang bruder karena merasakan kebaikan hati
seorang bruder yang pernah tinggal denganya. Atau, Sr. Vica yang tertarik
untuk menjadi suster dengan alasan ingin
lebih dekat dengan Yesus yang diidolakanya. Tiga buah ilustrasi tersebut mau
mengatakan bahwa motivasi panggilan dapat muncul di mana saja, melalui apa dan
kapan saja: bahkan jaman ini dengan caranya yang khas.

 Indikator
lain yang paling mudah ditangkap adalah “keprihatinan” terhadap keadaan atau
pergolakan suatu jaman. Artinya, motivasi seseorang untuk menjadi religius adalah
sebuah jawaban dari keadaan jaman yang aktual. St. Ignatius Loyola, misalnya,
terpanggil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan memerangi gerakan Protestantisme pada
era reformasi Gereja. Ibu Theresa dari Calcuta adalah contoh yang lain. Beliau
memilih menjadi suster karena merasa prihatin dengan kemiskinan dan penderitaan
rakyat kecil. Kedua contoh tersebut adalah bukti bahwa “keprihatian” memiliki
daya pikat yang dapat menumbuhkan suatu motivasi panggilan hidup religius.

  “Bobot” suatu jaman juga dapat dijadikan
indikator kesuburan motivasi panggilan hidup religius. Suasana jaman yang
terlalu sekular dan modern seperti jaman ini, misalnya, akan memiliki “bobot” penekanan
yang berbeda  terhadap panggilan hidup
religius dibandingkan dengan situasi jaman abad pertengahan. “Bobot” jaman ini dikenali dari banyaknya “tawaran manis”
terhadap pilihan hidup. “Tawaran manis” tersebut dengan sendirinya memberikan
himpitan yang cukup kuat terhadap perkembangan motivasi panggilan, inilah
kompetisi. Berbeda dengan situasi jaman abad pertengahan, sebuah jaman yang
memiliki peluang besar untuk kesuburan hidup panggilan.

Apapun bentuk motivasi seseorang untuk
menjadi religius harus dihargai, entah itu terkait dengan situasi jamannya atau
tidak. Penghargaan tersebut mengandaikan bahwa setiap bentuk motivasi dapat
ditelaah, dikembangkan dan dimurnikan. Motivasi panggilan bukanlah “barang mati”
yang tidak dapat diubah. Maka, bagian
ini kiranya baik juga diperhatikan bahwa semangat untuk menebarkan pesona
fisik, psikologis, spiritual secara positif perlu terus dilakukan oleh para
religius. Siapa tahu, dengan cara itu pula ada banyak anak muda yang kemudian
tertarik dan bergabung.

 

Demi Kualitas dan Kuantitas

 Gejolak
arus jaman dan segala permasalahan yang dimilikinya bukanlah sesuatu yang harus
disingkiri ketika merenungkan motivasi panggilan hidup menjadi religius.
Keadaan jaman tidak dapat disingkiri sebab para religius adalah juga
putra-putri yang lahir dari jaman itu. Perbedaan motivasi yang mereka miliki
untuk memilih hidup panggilan hanyalah pantas dilihat sebagai sebuah variasi.
Seperti jaman yang terus bergulung dan bergumul untuk menjadi lebih baik,
begitu pulalah motivasi panggilan itu.

Ketiga jenjang motivasi panggilan, keprihatinan
terhadap keadaan jaman dan bobot yang dimilikinya hanyalah cara sederhana untuk
mendapatkan gambaran umum mengenai motivasi panggilan menjadi religius jaman
ini. Sekaligus meraka adalah tanda-tanda yang menyertai suatu jaman. Apa yang
lantas dapat dilakukan ketika semua itu telah diketahui? Paling tidak ada satu
jawaban yang dapat diharapkan yaitu demi peningkatan kuantitas dan kualitas
hidup panggilan itu sendiri.

 

 Br. Dieng Karnedi, SJ

 

 

kodok ngorek

April 11th, 2007 by diengsj

This is just a simple reflection that i made two years ago…

“Kodok Ngorek”

“Kodok Ngorek” is just a
simple song which implies that happiness can be owned through a simple thing.

 

It was just
like a new person who was born in a new perception and awareness of life. He
continually realized that God has both loved and closed to him for years. It
has been founded since last month while he was doing 8 days retreat. He was
fully aware that love which he has received should be shared to others.
Happiness was one of stepping stone experience which he could possibly share as
a realization of love which has been inspiring this new person instead of
admiration of either other people or he himself as important, precious and
wonderful creatures.

 

Coming to the time for acting, exposure was being
held on April 14 to May 11, 9 juniors and I went to

Mindanao

Island

Philippines

for realizing and
sharing the grace of love which they have received. I could confidently say
that I was doing well in this exposure by bringing good news in Bukidnon, Cabanglasan
Parish. Leading by a brave Jesuit, Fr. Mateo Sanchez. SJ, who both has a strong
personality and quality, I did my exposure program in some mission areas.

 

There are some tribes who are living in
Cabanglasan Parish which have different places, languages and difficulties
which Jesuits have been serving for years. Inserting myself  as a part of that mission I have struggled to
share what I had, even though I was just being presence with them.  Language was a main problem for dealing with
new people, because every tribe has its own language. Facing many difficulties
in communicating, creativity was an essential act which I possibly did to meet
new people.

 

Kodok ngorek-singing of a frog was one of songs
which I could share as a sign of communication instead of dancing and joking
which I usually used. Through this song I could communicate with those people
who I have never met. Kodok Ngorek was a fruit of creativity which expressed
happiness in its own way.

 

There was a time when some Fr. Mat’s scholars, my
friends and I went to Balaas which could only be reached by foot for almost 12
hours. The last 8 hours was walking in
the river which has strong currents and slippery stones. At that time, I was
imagining that it was exactly same with the situation in the movie entitle” The
Mission” which I have watched.

 

Meeting a new tribe with all their simplicity of
food, life and culture, I wanted to do something that it could explain who God is.
It was just same with some scholars who have been trying to explain
Christianity to this a new tribe.  Singing
Kodok Ngorek, dancing and joking which I have done has made the whole family in
this tribe laughing and smiling. It was really enough to explain that God was
being presence when they were happy. A song “Kodok Ngorek’” has helped me to be
a friend of many people whom I met. It was like a new weapon which I could use
whenever I wanted to deal with new persons. “Kodok Ngorek” was like a story of
God attendance. I asked some scholars to clarify that God could be explained
through the singing of frog. Frogs were singing during the night even though
nobody asked them to sing. It was just like God who was always together with His
people even though none asked Him.   

 

It was really wonderful that in a month we were
always moving from one village to another. I have tasted new foods, water, and
met new persons, places and experiences. It was true that a Jesuit was a
traveler who was always searching and finding new places and persons.

Dealing with new persons in different places has
helped me to improve my own knowledge about other people and me. I have
continually realized that both every person and I have his or her own quality
and peculiarity. During the exposure, therefore, I really tried to confirm that
everybody was really important, precious and great. It was really enormous that
I could say good things about others. Going further on this experience I
started to realize that I appreciated myself when I was able to think that
other people were excellent. I finally found that I was also important, precious
and wonderful as well. It was like a new spirit which always inspired me to
deal with new persons.

 

It was normal that every action has its own effects.
Finding other people as a precious treasure I tended to be closed with them as
well as they did. Together, we share what we had like happiness, story and
difficulty in a short time of meeting. From this moment I could say that we
have shared love which we had. Coming to the time for saying good-by was a
terrible time for us. We were thinking why the time was very short? Could we
make it longer? It was not easy to say good-by even though we didn’t really
know how deep our relationship was.

 

Reflecting on this problem I just remembered what
I have thought about attachment. I agreed with some people who have said that we
should not attach to something which we had. It was just like frogs which
happily and freely didn’t sing during the day. They fully know that there was a
time for singing and working. It was same for me; there was either a time for
meeting and saying good-by. Therefore, an attachment should not be given a
place in my heart in order to face a new future.

 

Dieng